Hidup adalah rentang waktu untuk menaklukan mimpi demi mimpi, dan jadilah inspirasi bagi semua orang, untuk menemukan Tuhannya.
Minggu, 18 Maret 2012
Jumat, 19 Agustus 2011
CERPEN Antara Rinduku dan CintaMu
Kerinduan ini begitu membuatku merasa sesak untuk bernafas, kerinduan yang membuatku tanpa sadar menangis, kerinduan ini yang membuatku merasa kehidupan ini tidak adil bagiku, kerinduan ini yang membuatku merasa lelah.
Bukankah bulan ini, adalah bulan mulia, bulan yang ditunggu-tunggu oleh orang-orang yang begitu cinta akan Penciptnya, keyakinan pada yang Maha Pengampun. Semua orang menyambut dengan berbagai macam cara mereka, ya dengan berbagai macam cara. Lalu bagaimana aku? Sampai detik-detik menuju bulan mulia itupun, aku hanya masih termenung, termenung akan keadaanku. Masihkah aku disebut hambaNya? sedangkan dibulan penuh ampunan ini aku masih menyalahkan keadaan, bahkan aku sampai sempat menyalahkanMu.
Sungguh ya Rabbi, keadaan ini membuatku terasa sesak, Engkau memanggil orang yang ku cintai, orang yang satu-satunya mendampingiku, di bumiMu Rabbi. Kau memanggilnya saat beberapa hari menjelang bulan mulia ini, bulan yang kurindukan. Aku tidak membenciMu saat Kau memanggil Ayahku, padahal aku belum sempat mengingat wajahnya, tapi kali ini Kau memanggil seseorang yang mempertaruhkan jiwa dan raganya saat melahirkan ku keduniaMu. aku merasa sendiri, sendiri dalam relung kehampaan.
***
Dulu aku tidak pernah menyalahkan keadaan, bahkan saat aku sahur dengan ibuku hanya ditemani dengan lampu tempel, dan beberapa lauk-pauk yang disisakan dari jualan keliling untuk berbuka. Tapi aku merasakan kebahagiaan itu, merasakan kehangatan itu, dengan senyumnya ia selalu mengatakan “lihatlah, Allah selalu adil pada hambanya, Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan, maka bersyukurlah apa yang kita dapat hari ini, maka Allah akan menambah rizqi pada orang-orang yang bersyukur”, sambil mengusap kerudungku.
Setiap sore kami berkeliling kampung untuk menjual makanan kecil kami, saat melewati anak-anak kecil dijalanan ibuku selalu memberikan makanan yang sudah disisihkan sebelum makanan itu kami jual, aku sering ngomel “kenapa ibu kasihkan padanya, lalu nita makan apa?” sambil cemberut, ibuku hanya tersenyum lalu dia duduk dihadapanku dan mengusap pipiku “kita masih punya makan sisa dari sahur tadi, sedangkan mereka tidak punya bekal, biar kita sama-sama makan ya?, nita kalau senyum lebih cantik” sambil tersenyum.
Saat sholat tarawih ibu mengajaku ke masjid dekat rumah, dan kau bilang “kita beribadah sambil silaturahim dengan yang lain”, dan di sepertiga malam, ibu membangunkanku dengan lembut, mengantarkanku berwudhu, memakaikanku mukena dan mengajaku untuk berdo’a, karena dengan dekat Allah kau akan merasakan kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan apapun, itu yang ibu katakan.
Dan saat takbir menjelang, ibu meminjam setrikaan dari tetangga untuk menyetrika bajuku, baju baruku saat hari raya tahun lalu, tapi aku tidak pernah iri dengan anak-anak yang lain yang membeli baju baru setiap hari raya, bahkan ada yang membeli sampai 3 baju. Karena ibu sering bilang “asal pake kerudung nita itu udah cantik”. Dan dibale kecil belakang rumah kami, ibu mengajariku membuat ketupat, padahal ibu selalu salah tapi kau tetap mengajariku dengan sabar.
***
Dan sekarang bagaimana nasibkuku? Sendirikah sampai hari kemenangan itu datang? Saat Nama-Nama indahMu diucapkan oleh orang-orang yang beriman, yang menggetarkan hati-hati para pencintaMu.
Astagfirullah, Astagfirullah, Astagfirullah ya Rabbi lindungilah diri ini dari syetan-syetan yang godaanya membuatku jauh dariMu, yang membuatku selalu menyalahkanMu, yang membuatku merindunya begitu besar bahkan lebih besar dari rinduku padaMu.
Aku menoleh pada jam dinding, menunjukkan pukul 02.40, Allahu Rabbi tanpa sadar banyak waktu yang sia-sia, waktu yang seharusnya digunakan untuk sujud syukur padaMu karena aku masih diberikan waktu untuk merasakan ramadahan kali ini, waktu yang seharusnya digunakan untuk memohon ampun karena bulan ini adalah bulan penuh ampunan.
Aku langsung beranjak dari tempatku, dan mengambil air wudhu, subhanallah air ini begitu menyejukan, bahkan menyejukan hati ini. Ampuni hambaMu ini Rabbi. Ku lanjutkan sujud-sujudku, dan disetiap sujudku ku menyampaikan salam rinduku pada ibuku tercinta, kelak kita akan bertemu disyurgaNya.
Sahur!! Sahur!! Terdengar anak-anak kecil keliling untuk membangunkan sahur pertama dalam bulan ramadhan. Aku duduk dibale kecil, yang dulu aku dan ibuku duduk bersama untuk sahur, tidak ada yang berbeda, masih ada lampu tempel itu, lauk pauk yang sengaja aku buat sama dengan masakan ibu dulu, yang membedakan hanya tidak ada ibu.
Tok!! Tok!! Tok!! Terdengar keras suara pintu, beranjakku langsung membukanya, dan aku terkejut saat aku membuka pintu dihadapanku ini adalah anak-anak yang dulu ibu sering memberikan makanan jualan yang ibu sisihkan, yang saat makanan itu diberikan pada mereka aku langsung ngambek, yang saat makanan itu diberikan mereka langsung memeluk ibuku, yang membuatku merasa iri.
Aku langsung menyuruh mereka masuk, dan mengajak mereka sahur bareng. Rumah tua ini seketika menjadi ramai dengan canda tawa mereka. “apapun yang terjadi, yakinilah Allah akan selalu memberikan yang terbaik untukmu” aku ingat kata-katamu ibu, dan sekarang Allah mengirimkan malaikat-malaikat kecil ini kerumah, menemani sahur pertamaku, padahal aku sempat menyalahkanMu, ampuni aku ya Rabbi atas prasangka-prasangka burukku padaMu, di bulan penuh ampunan ini, aku memohon ampun karena kunyakin Engkau Maha Pengasih lagi Maha Pengampun.
Dan aku berharap, keramaian rumah tua ini tidak sampai saat sahur selesai, tapi saat hari kemenangan itu datang. Bahkan sampai hari kemenangan yang abadi yaitu saat kita bertemu di jannahNya kelak.
Dan ku harus meyakini dalam hati ini, kalau Kau mengirimkan mereka untukku, sebagai tanda cintaMu padaku, ampuni aku ya Rabbi.
Senin, 25 Juli 2011
Minggu, 17 Juli 2011
Hati berkata
Aku ingin berlari
Tapi hati ini berkata
Dimana tanggung jawabmu?
Aku ingin menangis
Tapi hati ini berkata
Dimana kekuatanmu?
Aku selalu menyalahkan keadaan
Tapi hati ini berkata
Dimana rasa syukurmu?
Aku selalu merasa sendiri
Tapi hati ini berkata
Dimana kau tempatkan orang – orang yang mencintaimu?
Aku selalu merasa kesepian
Tapi hati ini berkata
Dimana kau tempatkan Robbmu?
Pandanganku tentang hidup begitu jauh
Mungkin sejauh ku meninggalkan Robbku
Ku terlalu angkuh dengan kehidupanku
Mungkin ku angkuh dengan Robbku
Ku terlalu sombong dengan apa yang ku tahu
Mungkin ku sombong dengan pengetahuan yang ku miliki, tanpa tahu bagaimana besarnya apa yang diketahui Robbku
Ku selalu merasa sempurna
Mungkin ku merasa sempurna dengan apa yang ku miliki, tanpa melihat sesempurna apa Rabbku
Tapi satu yang ku selalu merasa lemah
Kebenaran kata HATI
Satu yang ku yakini
Saat ku ingin berubah menjadi orang yang lebih baik
Orang – orang meninggalkanku, mencemoohku
Tapi satu yang ku yakini dalam hati
Bahwa Rabbku,.. bersamaku
Saat air mataku jatuh
Semua orang meremehkanku
Tapi satu yang ku yakini dalam hati
Bahwa Rabbkku mengusap air mataku, dengan cintaNya
Saat aku terjatuh
Semua orang menertawakanku
Tapi satu yang ku yakini dalam hati
Bahwa Rabbku,.. Akan menolongku dengan segala kebesaranNya
Saat aku ingin menjadi pribadi yang kuat
Banyak rintangan yang ku lalui
Banyak hambatan yang ku tempuh
Tapi satu yang ku yakini dalam hati
Bahwa Rabbku akan menunjukkan jalanNya untukku.
Saat fitnah itu datang kepadaku
Semua orang menghinaku
Tapi satu yang ku yakini dalam hati
Bahwa Rabbku,… mengetahui kebenaran itu
.
Saat semua orang tersenyum dengan kebahagiaannya,
Ku tersenyum, karena Rabbku,.. Memberikan kebahagianNya untukku
Saat orang – orang berjanji dengan harapannya
Maka aku berjanji dengan Robbku, dengan harapanku
Dan saat cinta itu datang kepadaku
Maka dalam hati ku meyakini, bahwa inilah janji Rabbku
Cerpen Cinta itu hadir, dengan kekuatan hati
“Cintailah saudaramu, seperti kau mencintai dirimu sendiri”.
“Aku yang mengenalmu tanpa sengaja mencoba akrab denganmu, menjalani persaudaraan yang indah, melengkapi satu sama lain bersatu dengan ikatan ukhuwah. Dalam dekapan ukhuwah itu kita mengambil cinta menuju puncak dari segala hubungan, yaitu takwa. Dalam dekapan ukhuwah itu kita mengambil cinta dari langit lalu menyebarkannya di bumi, sungguh di syurga menara cahaya menjulang tinggi untuk saling mencinta”.
Untuk hati-hati yang saling menyatu karena cintaNya, cinta dari yang maha Pemilik Cinta. Cinta yang mengantarkan pada ketenangan di saat kegundahan, cinta yang mengantarkan rindu saat jauh, cinta yang mengantarkan air mata ini jatuh saat merindu, cinta yang mengantarkan pada keikhlasan untuk memberi, itulah cinta yang di ajarkan seorang yang menjadi qudwah, bagi para keluarganya, sahabat, dan dunia. Belajar untuk mencinta saudaranya, cinta karenaNya.
Itulah dasar, kenapa aku ingin menyebarkan cinta pada saudara semuslimku, cinta untuk menggapai cintaNya, cinta yang akan mengantarkan kami di syurgaNya kelak, bertemu dengan orang-orang yang saling mencinta, bertemu dengan wajah-wajah keikhlasan, ketenangan.
Awal bertemu dengan mereka, membuatku gugup, membuatku merasa tidak mampu, tidak mampu untuk menyebarkan cintaNya. Mereka datang, dengan wajah-wajah kekesalan, dan apapun kata yang menggambarkan ketidaksenangan. Aku mulai memperkenalkan namaku, mereka hanya diam, mungkin untuk apa mengenal namaku, pikir mereka. aku meminta untuk memperkenalkan diri masing-masing, dan jawabanya pun ketus. Dalam hati ini berkata, Rabbi inikah ujian dariMu karena amalan yaumiyahku kurang?, entahlah.
Dua sampai empat, dipekanan kita bertemu, mereka datang padaku sama dengan wajah-wajah seperti itu. Rabbi, salahku dimana?, inikah ujian dariMu untuk mengajarkan cinta itu. Aku mulai jenuh, lelah, marah, kesal dan masih banyak lagi, aku mulai membuka diskusi, dan merekapun mulai angkat berbicara, walaupun mereka berbicara keluh kesah mereka mengikuti pekanan, ya pekanan yang diwajibkan karena mereka mengontrak mata kuliah PAI, tentu tujuan mereka nilai. Sungguh, saat hati ini sedetik saja tak mengingatMu, syetan itu akan menggoda dari berbagai sisi. Bukankah, Rasulullah dalam menyebarkan cinta-cinta di bumi jahiliyah, tak pernah sedikitpun mundur? Sampai dilempari batu sampai berdarahpun, Rasulullah tak pernah sedikitpun putus asa, karena apa? Karena Rasulullah membawa cinta dari sang pemilik cinta, untuk mengajarkannya pada mereka. dan hasilnya luar biasa, pada waktu sholat semuanya berkumpul untuk bersujud padaNya, berkumpul dalam ikatan ukhuwah, sungguh indah ukhuwah itu, hadir sebagai pemberi nafas dalam keikhlasan.
Aku muali tertantang untuk mencari metode-metode pengajaran, aku mulai penasaran, sekeras apa hati mereka, sampai bacaan Qur’an pun mereka tak suka mendengarnya, bukankah yang menggenggam hati-hati itu sang pemilik hati? Buakankah Dia yang akan membolak-balikan hati itu? Maka aku mulai memperbaiki amalan-amalanku, ku perbanyak tilawahku, ku ingat wajah-wajah mereka disetiap sujudku.
Pekan kelima, ada yang berbeda dari mereka, mereka datang dengan wajah-wajah yang keceriaan, keingintahuan. Sungguh Rabbi, janjimu adalah benar. Biasa, aku mulai dengan membuka materi pekanan, tanpa di suruh mereka untuk bertanya, mereka mulai mengantri untuk bertanya. Apa yangm mereka pertanyakan? Tentang islam, mereka mulai terbuka, mereka bertanya dengan penuh keantusiasan. Apalagi saat mereka bertanya tentang kewajiban seorang akhwat untuk berkerudung. Sungguh, kebahagiaan yang tiada tara, yang tidak bisa ku ungkapkan, hanya Engkau yang tahu, tahu akan hati ini.
Setiap pekanan, mereka seperti itu, dengan jalan penuh semangat, dengan wajah keantusiasan. Ku sambut mereka dengan senyuman, dengan aku tidak boleh telat kepekanan, walau begitu aku tidak memungkiri, terkadang aku telat. Sampai suatu hari, aku pernah bertanya, untuk mengevalusai diri, bagaimana dengan sikapku? Cara bicaraku? Perilakuku? Dan jawabannya subhanallah, ada yang menjawab kalau aku menjelsakan materi itu seperti orang yang lagi berorasi, ada yang menjawab dan bahkan bertanya bagaiman aku bisa setiap pekanan dengan wajah yang begitu penuh semangat, dan jawaban dariku simple, aku jawab karena aku cinta karenaNya. Dan beragam jawaban mereka, tentangku. Ya Rabbi, andai saja mereka tahu aibku, kekuranganku, mungkin saat ini bukan pujian yang mereka lontarkan untukku, tapi cacian dan hinaan. Syukurku padaMu, karena Engkau masih menyimpan dan menutupi aibku ini, semoga ini bukan pujian tapi renungan untukku, untuk selalu memperbaiki diri dan dekat denganMu.
Sampai pada waktunya, kita untuk berpisah, karena sudah selesai pekanannya. Allah tahu apa yang terbaik bagiku, dan bagi mereka. tahu apa yang kita butuhkan, dan Allah itu mencinta proses. Subhanallah, maha suci Engakau ya Rabbi, yang awal aku bertemu dengan mereka, mereka mengacuhkanku pada saat aku berbicara, mereka menyudutkanku dengan pernyataan-pernyataan mereka dengan ketidaksukaan mereka dengan pekanan, tapi kini mereka menangis dihadapanku, menangis dengan kepolosan mereka, menangis dengan berharap agar aku bisa bersama mereka dipekanan lanjutan.
Dan mereka adalah, tutee-tutee pertamaku, banyak hal yang aku bisa belajar dari mereka. sampai aku teringat dengan perkataan kakak tingkatku, “jangan kau menuggu cerdas untuk mengajarkan, saat kau bisa huruf A maka ajarkanlah huruf A itu, dan jangan kau hanya belajar dengan mendengarkan, tapi belajarlah dengan mengajarkan, karena akan banyak makna tersendiri”, dan kini aku merasakannya.
Aku banyak belajar dari mereka, dari kehidupan mereka yang beragam. Mulai dari mereka yang anak mamah, sampai dari mereka yang belum bisa merasakan kehangatan dan cinta seorang ibu. Aku belajar untuk ikhlas dari ia yang diabaikan ibunya sejak kecil, aku belajar menerima dari ia yang kehidupan ekonominya kurang, aku belajar untuk semakin mencintai ibuku dari ia yang ibunya tidak mau jauh darinya, aku belajar sabar dari ia yang ditinggalkan ibunya sejak ia lahir dan belum sempat merasakan kehangatan cinta seorang ibu, aku belajar untuk bangkit dari keterpurukan dari ia yang pernah tersandung dengan kenakalan remaja, dan aku belajar juga merasakan cinta dan hiruk pikuk kehidupan mereka. Dan masih banyak hal lagi, yang bisa kupelajari.
Inilah janjiMu Rabbi, bisa jadi kita berdakwah hari ini, perubahan itu ada dimasa yang akan datang, entah dua atau tiga tahun lagi, dan mungkin lebih. Ada pelajaran tersendiri bagiku, mereka ada karena ada kita, mereka seperti itu bagaimana kita yang akan membawanya. Langkah ini, langkah saat aku datang kepekanan, begitu ringan dan penuh antusias, bukan aku yang menyemangati diriku sendiri, tapi ada penyemangat yang lebih membuatku jauh dari keputusasaan. Hanya Engkau pecinta sejati, dan penyemangat jiwa ini.
